Kamis, 15 Desember 2011

8 Alasan mengapa harus berakhlak mulia

ImageAkhlaq dalam Islam itu meliputi dimensi batiniyah dan lahiriyah sekaligus, apa yang ada dalam hati dan apa yang tercermin dalam perilaku melalui organ-organ tubuh kita. Inilah yang membedakan akhlaq dengan etiket. Jika etiket hanya mementingkan apa yang nampak dari diri seseorang, akhlaq tidak. Dalam konsep akhlaq, yang ada dalam batin kita harus bersih dan baik – yang kemudian tercermin dalam perilaku kita. Bukan hanya baik diluarnya, sebagaimana yang terjadi pada orang yang pura-pura dan mengidap penyakit nifaq.
Pertanyaannya, mengapa kita harus berakhlaq mulia dan membebaskan diri dari akhlaq tercela? Jawabannya setidak-tidaknya bisa dijelaskan dalam delapan poin.
Pertama, misi utama Islam adalah menyempurnakan akhlaq yang mulia. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia” (HR Al-Baihaqi dan Al-Hakim). Bahkan ibadah-ibadah yang kita lakukan pun selalu dikaitkan dengan pembersihan jiwa dan pencapaian akhlaq yang mulia. Penjelasannya ada disini.
Kedua, akhlaq yang mulia merupakan warisan Rasulullah saw, sementara beliau adalah uswah (teladan) kita. Allah SWT berfirman, ”Dan sesungguhnya kamu )wahai Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam : 4)
Ketiga, akhlaq merupakan parameter utama keimanan. Rasulullah saw bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya” (HR At-Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Hibban).
Rasulullah saw juga mengaitkan akhlaq yang mulia dengan kualitas keimanan. Diantaranya adalah dalam hadits beliau: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya”. (HR Muslim).
Bahkan Rasulullah saw mengecam orang yang berakhlaq buruk dan menyebutnya tidak beriman. Rasulullah saw bersabda, "Demi Allah tidaklah beriman, demi Allah tidaklah beriman, demi Allah tidaklah beriman," Mereka (para sahabat) berkata; "Apa itu wahai Rasulullah?" Rasulullah saw bersabda: "Yaitu seseorang yang tetangganya tidak bisa aman dari bawa`iqnya". Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah apa itu bawa`iqnya?" Rasulullah saw bersabda: "Kejelekan dan kejahatannya." (HR Ahmad)
Keempat, akhlaq yang mulia akan memberatkan timbangan dan meninggikan derajat seseorang di surga. Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada sesuatupun yang lebih memberatkan timbangan (kebaikan) (pada Hari Kiamat) daripada akhlaq yang baik” (HR At-Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Hibban). Beliau saw juga menjanjikan rumah di surga yang tertinggi bagi orang yang baik akhlaqnya. Beliau saw bersabda, Aku menjamin sebuah rumah di tepi surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan yang tidak perlu meskipun ia berada di pihak yang benar; dan sebuah rumah di tengah-tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta, meskipun gurau; dan sebuah rumah di surga yang tertinggi bagi orang yang baik akhlaqnya” (HR Abu Dawud dengan sanad yang shahih).
Kelima, akhlaq yang mulia merupakan sebab masuk surga dan terhindar dari neraka. Rasulullah saw pernah ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, maka beliau pun menjawab: "Takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia." Beliau juga pernah ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan orang ke dalam neraka, maka beliau menjawab: "Mulut dan kemaluan." (HR At-Tirmidzi)
Keenam, akhlaq yang mulia sanggup mengubah permusuhan menjadi persahabatan. Allah SWT berfirman, “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (QS. Fushilat : 34)
Ketujuh, akhlaq merupakan salah satu faktor terpenting penjaga keistiqamahan seseorang. Diantara akhlaq-akhlaq penjaga keistiqamahan tersebut adalah: ikhlas, sabar, tawakkal, kelapangan dada, berani, jujur, rasa malu dan sebagainya.
Dan kedelapan, akhlaq merupakan faktor utama bagi keberhasilan dakwah. Perhatikanlah firman Allah SWT: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu*. (QS. Ali Imran: 159)
*Maksudnya: urusan peperangan dan hal-hal duniawiyah lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan dan lain-lainnya.
Karena itu, Allah SWT berfirman: Artinya : Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. (QS. An Nahl : 125)
Dengan akhlaq yang mulia, Rasulullah saw sanggup meluluhkan hati keras seorang Arab Badui yang secara tidak sopan buang air kecil didalam masjid. Sebagaimana diceritakan dalam hadits muttafaq ‘alaih, suatu ketika seorang Arab Badui datang ke masjid Nabi dan buang air kecil di dalam masjid tersebut. Kontan saja para sahabat yang mengetahui hal itu langsung marah dan siap memukul Arab Badui tersebut. Tetapi Rasulullah saw mencegahnya. Bukannya marah-marah, Rasulullah saw justru menunggu si Badui itu menyelesaikan buang airnya. Setelah itu dengan tenang Rasulullah saw menyiram tanah yang barusan dikencingi oleh si Badui tersebut, sementara si Badui hanya tertegun melihatnya. Ternyata dengan tindakan Rasulullah saw ini, hati si Badui menjadi luluh, dan akhirnya menyatakan keislamannya di hadapan Rasulullah saw.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar